Wednesday, May 15, 2013

Oh Borneo...my dreamland


Pasar Terapung Lok Baintan
Sejak lama saya mengimpikan untuk menginjakkan kaki di tanah Borneo, setidaknya, mulai intens saat saya memutuskan untuk menerima tawaran mutasi kerja ke Kalimantan tahun 2008. Semua sudah dirancangkan boss saya. Dan tahukah kamu? saya betul-betul excited dengan ide si boss dan pertualangan hidup disana nantinya. Saat itu kami sudah survey tentang Samarinda, ah..sungguh indah dalam imajinasi saya. Daerah yang banyak sungai, pantai biru-toska dan pasir putih di utara, serta kerja yang berhubungan dengan perkebunanan sawit. what a great life.

Dalam satu jentikan jari, mimpi berubah total. Demi satu pembuktian pada orang tua, saya ikut test kerja di Bukittinggi, alhasil saya diterima. Semua bahagia tapi saya galau membuat pilihan.

Ditahun ke empat saya bekerja di Bukittinggi, mimpi tentang Borneo tiba-tiba jadi kenyataan dalam bentuk yang lain. Kunjungan kerja singkat ke Banjarmasin, hanya 4 hari kerja tapi cukup memuaskan hati saya.

Cara mengecek keaslian Zamrud
Baru saja Lion Air yang saya tumpangi mendarat di Syamsudin Noor airport, saya langsung menuju Martapura. Sekitar 30 menit dari airport. Siapa yang tidak kenal daerah ini, pusat jualan intan dan batu alam yang paling tersohor di Indonesia. 
Ah...malunya saya, merasa sangat bodoh kerna selama ini saya pikir batu alam itu di dulang di Sungai dalam bentuk yang sudah cantik.
Tahukah saudara-saudara? ternyata batu alam itu ditambang, Kecamatan Cempaka adalah dapur batu alam, intan-permata yang ada di Kalimantan Selatan ini.


Bongkahan batu hasil tambang itulah yang dipecah-pecah dan diasah menghasilkan batu mulia dan batu alam yang sangat cantik dengan kadar kekerasan batu yang sangat beragam.
Baru berdasarkan kadar kekerasan

Kunjungan lainnya adalah ke Pasar Lok Baintan, pasar terapung yang ada di Sungai Barito. Satu lagi mimpi saya menjadi nyata, mengambil foto pasar terapung! 
Dan sepanjang perjalanan Sungai Barito, memori saya flashback pada masa-masa saya tinggal di Indragiri Hilir Riau. Kondisi alamnya sama.

Di Pasar Lok Baintan ini saya melihat 99% pedangang dan pembeli adalah kaum wanita. Sungguh tangguhnya mereka mendayung sampan saat melawan arus.
Sepintas mungkin terlihat mudah saja mendayung sampan, tapi sungguh itu pekerjaan sulit. Saya pernah mencoba dan tidak sedikitpun sampan saya bergerak.
Minyak bulus, lintah, buntal




Sore menjelang magrib saya memberanikan diri untuk JJS (Jalan-Jalan Santai) sendirian, menikmati suasana sunset dan sedikit mengenal kota ini. Saya yakin tidak akan tersesat kerna GPS ada ditangan. Banyak hal yang saya jumpai sepanjang perjalanan saya. Dan ketika azan magrib menggema, saya putuskan untuk kembali ke Hotel, dan mulai mengaktifkan GPS saya, memintanya untuk menunjukkan jalan kembali ke Hotel. 
Sialnya...GPS tidak menemukan hotel yang saya maksud. kok bisa? padahal ini kan hotel terkenal yang ada dikota ini. 
Ada buktinya nov hotelnya terkenal?
Ya..setidaknya Ariel Noah juga menginap dihotel ini.
ok..back to the case....


Ratusan penyu gagal mencoba untuk hidup
Saya sudah cukup jauh 'menyasarkan' diri. Akhirnya saya bertanya pada bapak yang duduk dipinggir kedai kecil di depan jembatan. Sambil melepas lelah, saya mengobrol dengan dia dan bertanya jalan kembali ke hotel saya. Saya pikir arah yang diberikannya sudah cukup menuntun saya untuk pulang, saya pamitan.

Lagi-lagi saya menyasarkan diri diperjalanan. Saya bertemu ibu tua penjual telur penyu. Tiba-tiba saya merasa sedih sekali. Bukan saya sok jadi orang yang peduli pada lingkungan, tapi saya ingat film animasi Sammy Adventure I and II. (Film animasi yang bercerita tentang pertualangan penyu).
Demi mendapat informasi dari si Ibu saya rela membeli telur penyu nya Rp.8000 per butir. Telur itu tidak akan saya makan, tapi sekadar pengingat dan jadi memori untuk saya suatu saat nanti.

Thursday, April 18, 2013

5Th Putrajaya Hot Air Balloon Fiesta

Hot Air Balloon
1st escape in  2013.
Awal tahun kerja sangat banyak, sibuk dengan laporan ini-itu, nasib baik ada long weekend. Cepat-cepatlah saya apply izin kerja 3 hari, dengan syarat kerjaan saya harus siap sebelum libur. Jadilah meeting sampai 11 malam di hari kamis, dan jumat yang seharusnya libur nasional saya masih kerja setengah hari. Kemudian rushing ke airport untuk mengejar penerbangan saya ke KL siang itu.

Sampai di KL rasanya lega banget, kerna AirAsia kali ini kurang mulus jalannya, banyak jalan berlobang kali di udara ye...
Dan sampai di KL pun udah lumayan sore. Capek.
Segera tidur sebab subuh buta harus antrian beli tiket untuk naik balon. Jam 4 subuh sudah bergerak menuju Putrajaya, sampai disana antrian orang-orang yang antusias untuk naik balon udara sudah cukup ramai. Kami mengantri sampai jam 7 saat counter tiket dibuka. 

ticket
Perhari cuma tersedia 300 tiket untuk pengunjung yang ingin mencoba pengalaman seru naik balon udara. Harga tiketnya RM.20, padahal di website mereka tulis RM.10.

Banyak kegiatan disiapkan panitia selama acara berlangsung. Tapi saya focus pada balon saja. Ya mulai dari ambil foto, meet end greet with balloonist, hunting cendra matanya sekalian. Dan bonusnya diwawancara Bernama dan bisa ngeceng di TV, hahaha...norak.

with balloonist
antrian tiket

flying








Thursday, January 17, 2013

Passion for Life

Passion is like horse racing
Terlahir sebagai seorang sagitarius sedikit banyak mempengaruhi karakter saya. Saya cenderung bosan melakukan hal yang sama dalam kurun waktu yang lama. Setiap rentang waktu tertentu saya harus memutar otak mencari sesuatu yang baru untuk meng-gairah-kan hidup saya kembali.

Saya mulai menyadari hal ini sejak SMP dulu. Zaman itu saya suka sekali dengan dunia radio. Setiap hari saya habiskan waktu dengan mendengar radio. Mulai dari radio lokal di gelombang FM sampai radio dari negeri antah berantah yang tertangkap di gelombang SW (short wave). Saat itu saya jadi pendengar setia radio Singapura. Siarannya sangat bagus, tidak melulu memutar lagu, tapi bermacam informasi bisa saya dengarkan dari kamar saya.
Dan good news nya adalah, suatu hari saya berkesempatan mengunjungi Radio Singapura atas undangan Mediacorp Radio sebagai salah satu pemenang essai tentang negara mereka menurut pandangan pribadi saya.

Era radio redup dari kehidupan saya, dan digantikan dengan kehadiran internet. Zaman-zaman SMA duit selalu habis di warung internet. Saya tergila-gila dengan internet dan selalu berselancar di dunia maya. Nasib baik tidak terjadi hal-hal buruk pada saya. Malahan saya memetik banyak manfaat dari kecintaan baru saya itu. Yang pasti saya tidak gaptek. Saat orang lain masih berkirim berita melalui surat pos, saya sudah menggunakan email. Ketika telponan mahal ke luar negeri,  saya sudah mengenal VoIP dan memangkas cost telpon sampai 80%.

Kerna terlalu banyak mengenal dunia luar melalui internet timbullah keinginan untuk menginjakkan kaki ke setiap tempat yang didambakan. Saya mulai jatuh cinta dengan travelling. Setiap ada uang di kantong yang terpikir adalah untuk membeli tiket dan jalan-jalan. Mulai dari jalan antar daerah dan akhirnya memberanikan diri untuk jalan ke negara orang.

belajar foto saat ketemu fotografer di kebun raya
hasil foto pertama saya
Setahun terakhir saya kehilangan teman jalan, jadi frekwensi jalan-jalannya sedikit berkurang. Dan saya coba mencari 'gairah' baru. Saya belajar tentang photography. Entah kenapa tiba-tiba saya jatuh cinta dengan foto. Dengan pengetahuan nol besar, saya mulai belajar dari A tentang foto. Jangankan teknik men-jepret, cara memakai kamera DSLR saja saya buta. Tapi hal-hal merubah kebutaan menjadi tampak nyata itulah passionate dalam hidup saya.
Hasilnya tidak begitu jelek, dan bisa dilihat disini

 Cake and Bakery shop
Meski umur photography masih seumuran jagung, sekarang saya sudah mulai melirik 'pacar baru' yang bisa memicu hormon endorfin saya.
Saya ingin belajar berbisnis. Sekarang sedang coba membangun kandang untuk beternak itik petelur. Dan saya mulai sibuk belajar tentang meramu pakai itik petelur dan cara budidayanya. Ide lainnya adalah ingin memulai bisnis kedai kecil-kecilan cake and bakery. Nama toko dan design logo sudah siap, konsep jualan juga sudah dirancangkan, hanya tinggal design toko dan sign contract dengan pemilik tempat.
Mudah-mudahan tidak mengecewakan. (cross the finger)



Wednesday, November 28, 2012

KAKI JALAN

Disinilah kaki melangkah
Ah..november kembali lagi untuk menyapa saya dan memberikan alert:
1. nov!! wake up! jatah hidupmu semakin berkurang, dan sampai tahun ini sudah terpakai 29 tahun.
2. nov, wake up! november is here! waktunya cheers up ur self. udah beli tiket belum? udah packing belum? ayo jalan. jalan nov, jalan!!!!....melihat dunia luar sana.

Baiklah november, saya sudah siap untuk menghadapi kamu bahkan jauh-jauh hari sebelum kehadiran mu.
saya sudah menyiapkan budget untuk liburan sepanjang pulau jawa dengan de geng-trimasgetir. tapi yang namanya suratan tangan, last minutes kami ga bisa berangkat. sedih sekali rasanya. bagaimana tidak, disaat punya uang, waktu tapi tidak bisa menghabiskannya bersama. saya benci sekali fitnah murahan yang dibuat orang kantor yang jeles dengan saya sampaikan teman-teman baik itu harus menjauhkan diri takut fitnah lain akan datang.

Ya sudahlah, saya tidak mau mati kerna fitnah itu. biarkan anjing menggonggong, seleb tetap exist, huhu.
Putar otak, otak atik internet, mau kemanakah kaki akan dilangkahkan kali ini?
Plan A, hmm...tidak seru kalau sendirian
Plan B, hmm...
Plan C, hmm...
tanpa plan...ayo berangkat. beli tiket last minutes, dan hubungi kawan jauh, all set.

Lama tidak menginjakkan kaki di Sultan Syarif Kasim Airport, ternyata makin keren aja tuh pembangunannya. lirik sana sini berusaha mencari seseorang yang mungkin bisa dijadikan teman selama perjalanan. oh ternyata im unluck.

Disamping saya duduk seorang nenek, dia kebingungan memasang tali keledar (alah kenapa pakai bahasa Malay sih nov) dan saya membantunya. Kemudian selang beberapa menit saat pesawat take off, si nenek memerhatikan saya dan bertanya,
"Mau kemana? Malaysia juga?"
saya yang setengah termenung makin bengong mendengar pertanyaan itu.
"Ga nek..mau ke neraka" (dalam hati)
hanya anggukkan yang saya berikan kepada beliau, sambil menahan tawa.
What a day huh?

Padang Paintball
Niat ke utara, takdir menuliskan ke selatan, tidak masalah. Bagi saya setiap perjalanan pasti akan menyenangkan. Dan hal paling penting yang saya pelajari dari perjalanan kali ini adalah tentang PaintBall. ternayata ini olahraga yang tidak murahan plus tidak murah dan sangat cool.
Paintball







Dua hari di Dataran Pahlawan, saya memerhatikan 'binatang' apa itu paint ball, sedikit banyak sekarang saya mengetahui kenapa orang-orang tertarik dengan dunia ini. Kebetulan saat saya datang sedang berlangsung MY-NPL 2012 Finall Leg Paintball Tournament.

Dan saya mengenali orang-orang yang keseharian mereka akrab dengan paintball ini. ah..beruntungnya saya diperkenalkan dengan hal-hal baru seperti ini. Thanks to Naja  ;)

Kemudian mengelilingi kota tua sendirian, dan mengenang sepotong kisah yang pernah ada disini dimasa yang lalu, kembali menuliskannya dalam note book kecil perjalanan saya.
Sayangnya mood tidak berapa bagus untuk mengabadikan dalam gambar. Jadilah trip kali ini miskin foto.

Beberapa hari disini, plus sakit yang cuma terbaring di tempat tidur 2hari, baru saya kembali bergerak mencari tiket untuk perjalanan selanjutnya. liburan ini diakhiri dengan mengunjungi 2 tempat lainnya.
Selalu ada bahagia dan cerita setelah perjalanan.

Monday, October 15, 2012

CINGKUAK ISLAND


Hampir setahun saya melupakan bau khas udara di tepian pantai. Panas pasir yang terbakar matahari, anyir ikan hasil tangkapan nelayan, dan udara yang ikut ‘terasa asin’ kerna penguapan air laut. Hari ini saya kembali menghirup bau khas itu, sungguh membangunkan saraf-saraf indra saya yang hampir mati kerna terakhir saya liburan di pantai adalah November  tahun lalu di Pantai Cherating, Pahang Malaysia.

Cingkuak Island

Trip hari ini sederhana tapi luar biasa. Biasanya saya lebih akrab dengan pantai-pantai yang ada di negeri seberang, tapi sekarang saatnya saya mengeksplorasi negeri sendiri. Rasa menyesal dan malu sekali kerna saya betul-betul tidak tahu kalau di pantai barat Sumatera Barat itu banyak pantai yang luar biasa. 

Dulu waktu masih kecil saya hanya dibawa liburan ke Pantai Muaro Padang. Saya pikir hanya ini pantai yang dimiliki Sumatera Barat. Pantai yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia yang bergelombang tinggi, dan pasir pantainya tidak cukup menarik hati saya. Aktivitas disini hanyalah memandangi ombak yang bergulung sambil makan jagung bakar, argh membosankan. Selebihnya memori otak saya dipenuhi dengan keindahan pantai-pantai yang ada di Batam dan Negara tetangga.

Pagi ini bersepakatlah saya and the gang memulai perjalanan dari Kota Padang ke arah selatan yaitu Ranah Pasisia (Pesisir Selatan). Sekitar dua jam perjalanan sampailah di Pantai Carocok, dan langsung menyeberang ke Pulau Cingkuak yang nampak di depan mata.
Air laut biru toska, pantai pasir putih, tebing karang yang kokoh melukis keindahan alam selama berberapa jam kami disini. Tidak akan mati gaya selama di pulau ini, kerna tiap weekend  penduduk setempat menyewakan banana boat dan jet ski ataupun anda yang ingin mengelilingi pulau dengan speed boat cukup dengan membayar Rp.15.000 per orang, harga yang sama untuk banana boat. Sedangkan untuk jet ski di charge Rp. 100.000 per 10 menit.

Berkeliling Pulau Cingkuak
Saya lebih menikmati snorkeling walaupun terumbu karang disini banyak yang mati kerna pengaruh gempa besar tahun 2009 yang meluluh lantakan bagian barat Sumatera Barat. Tapi walaupun demikian masih banyak dijumpai ikan-ikan karang berwarna-warni yang sangat cantik. Dan tidak ketinggalan mengabadikan beberapa sudut pulau dengan ‘my red lady’  Canon EOS Kiss X-50.

Sayangnya disini tidak ada bungalow, homestay, chalet atau sejenisnya. Saya dengar-dengar masih ada sengekta kepemilikan lahan dan pengelolaan area. Menurut pendapat saya ini harus menjadi perhatian khusus Dinas Pariwisata setempat untuk mengelola, tidak hanya sekadar memungut retribusi tiga ribu rupiah per pengunjung saat  akan menyeberang dari Pantai Carocok ke Pulau Cingkuak, sementara pantai masih kotor dengan sampah pengunjung dan tidak satupun tong sampah milik pemerintah ‘dipajang’ disini. Toilet umum pun masih kurang memuaskan pengunjung cerewet seperti saya.

Saya bermimpi bisa membeli tanah disini dan membangun chalet, dan melengkapi fasilitas umum lainnya kemudian berpromosi tentang tempat ini di cyber. Jangan sampai pantai ini suatu saat dibeli Bule lagi dan dijadikan private island seperti Pulau Cubadak. Kemudian juga ingin membuka toko souvenir yang menjual semua pernak pernik khas Pulau Cingkuak, memalukan sekali rasanya saat saya melihat satu gerai yang menjual baju pantai disini betuliskan I LOVE BALI. Tidak ketinggalan untuk membuat paket ‘Pancing Mania’ dengan kapal milik saya dan setiap hasil tangkapan bisa dengan bebas mereka masak di kedai makan saya tidak perlu dipungut biaya, cukup men-charge sewa kapal dan perlengkapan pancing saja.

The Bridge of  Roots
Stop bermimpi nova! Mari lanjutkan perjalanan ke Jembatan Akar (Jambatan Aka), yang masih berada di Ranah Pesisir ini. Sambil ‘berakal’ (Bar'aka' = bahasa minang) untuk mewujudkan mimpi itu.

Monday, September 24, 2012

BOSS cs ME (Part I)

Sepatu kerja pemberian si boss
Meskipun  masih hitungan jari dalam tahun bekerja, tapi saya sudah menghadapi berbagai karakter boss dan meceburi berbagai jenis pekerjaan. Saya sudah merasa jadi pekerja dan mempunyai boss saat mengelola laboratorium komputer di kampus. 

Boss pertama saya adalah dosen saya sendiri. Saat itu saya sebagai pengelola laboratorium dan memikirkan bagaimana untuk menghasilkan rupiah dari unit-unit komputer yang ada, sementara  si Pak dosen  berperan sebagai pengawas yang saya panggil Pak Manager. Hubungan kerja yang sangat akrab dan menyenangkan, kerna kami adalah orang-orang ‘pecandu’ IT yang nyasar ke fakultas pertanian.

Bahkan selang berapa tahun kemudian setelah saya benar-benar bekerja di dunia kerja nyata, dan merasa buntu dengan kerja saya, sang dosen dengan tangan terbuka mengajak saya kembali bergabung di Lab. Tapi lambat laun saya pikir hidup itu harus maju, jangan kembali ke belakang, maka saya siap kembali ke dunia kerja dan memegang ‘wangsit’ pak dosen, ”nov, yang namanya kerja tidak ada yang enak, dan kerna itu kita digaji untuk melakukan pekerjaan.” (HAPPY ENDING)

Akhir tahun 2006 adalah pertemuan saya yang tergokil dengan si boss yang satu ini. Sebut saja namanya bobby. Si boss yang suka ‘keluyuran di internet’ nyasar ke blog saya dan tertarik dengan artikel tugas akhir saya tentang perkebunan kelapa. Lalu dia meninggalkan pesan di chat box dan meminta saya untuk mengirimkan email ke dia. Sejauh itu saya tidak kenal siapa dia, saya hanya sekadar ingin berbagi ilmu dengan pengunjung blog saya, itu yang terlintas dipikiran.

Send email-reply-email-chat gokil di Yahoo Messenger sebab saya tidak peduli siapa kawan chat saya. Ngawur ngidul eh, akhirnya baru dia omongin tujuan dia.

Ternyata dia sedang mencari karyawan yang ber-background pertanian dan tidak gaptek (celik IT). Hanya bermodalkan wawancara melalui Yahoo Messenger dan mengirimkan dokumen lewat email, saya langsung diterima kerja dan langsung nego gaji. Lumayan..eh, 2 kali lumayan secara saya fresh graduated saat itu.

Hari minggunya saya memberanikan diri menjumpai si boss di Palm Oil Miller di tengah hutan sawit hanya bermodalkan 3 clue. Si boss bernama Bobby, assistentnya Hera dan nama perusahaannya PT. Bina Sawit Bla Bla.Terperanjat katak lah saya saat bertemu muka dengannya. Tertanya disitu rekan kerjanya bule dan orang-orang mata sipit termasuklah si boss ini. Tidak menyangka saya akan dijadikan bagian dari tim ini. Sedikit merasa rendah diri sebab saya tidak punya pengalaman kerja apa-apa. Untungnya si boss baik sekali. 

Kenangan yang paling menyenangkan adalah waktu diajak shopping membeli perlengkapan kerja saya. Boss, saya, dan rekannya si bule Anthony. Dia selalu bertanya dengan antusias pada saya, “feel exciting with the project nova?” “yeah of course :)” Belakangan baru saya faham kenapa Anthony selalu bertanya hal yang sama pada saya.(HAPPY ENDING).

Pindah dari boss Bobby saya dipertemukan dengan boss Onggo. Tidak bertahan lama, tapi secara umum dia sangat baik dan perfect. Nah..sangking perfect nya dia ini saya tidak tahan bekerja dengan dia. Hari libur dia mengajak saya mengunjungi rekan-rekan bisnisnya di hutan sawit kemudian pergi ke Pekanbaru untuk shopping. Semua rekan kerja saya masih sama, laki-laki dan bermata sipit.

Sangking pedulinya dia dengan saya, ketika dia terbaring sakit di Jakarta  pun, eh masih sempat-sempatnya dia menanyakan apakah saya sudah makan atau belum via telpon. Jangan jajan di luar, kerna kotor. Kalau lapar suruh Bi Imah masakkan, jangan suka tidur larut malam kerna keasyikan online. 

Jangan berpikiran negative dulu, tidak ada hubungan lain selain antara atasan dan bawahan. Awal kerja saya sudah diingatkan istrinya, “kamu tahan kerja dengan bapak? Bapak orangnya sangat detail tapi sebenarnya tujuannya baik”. Waktu itu saya hanya mengangguk iya. 

Tapi lama-lama saya gerah juga. Bangun pagi terlambat salah, tidur larut kena sound. Bikin laporan dan table excel tidak rapi diprotes, gulungan colokan laptop tidak benar diprotes, meng-clip laporan dengan anak hekter double juga jadi masalah. Dia SMS dan tidak segera dijawab trus pakai alasan pulsa habis, eh langsung diisikan pulsa. Aduh, betul-betul saya tidak tahan.

Cabut dari Onggo saya pindah ke Pekanbaru dengan suasana kerja baru, dan boss baru. Kali ini boss nya wanita bernama Sukiani. Dari namanya saya pikir orang jawa dan pasti keibuan. Dan setelah bertemu saat wawancara kerja, barulah saya tahu siapa Sukiani. (to be continue.....)

Saturday, December 17, 2011

IMIGRASI

Salah satu hari terindah bagi saya adalah saat mengantri untuk cap passport di meja imigrasi. Ini artinya saya kembali melakukan perjalanan, dan akan ada cerita disepanjang perjalanan saya nantinya.

Perjumpaan saya pertama kali dengan orang imigrasi adalah awal tahun 2004, saat itu saya mengunjungi Singapura atas undangan Mediacorp Radio. Pihak imigrasi mereka cukup bersahabat, mungkin mereka tahu saya datang hanya untuk berliburan sebab status saya saat itu masih mahasiswa. Mereka hanya menanyakan apakah ini pertama kali saya mengunjungi singapura, dan mengucapkan selamat datang ke negara mereka and enjoy ur holiday!

Lain dengan cerita di imigrasi LCCT Malaysia. Di kunjungan ke dua saya ke Malaysia, saya pikir akan lebih baik. Sebab Setelah yang pertama  saya bersumpah pada diri sendiri tidak akan ke Malaysia lagi lewat jalur laut, kecuali terpaksa. (Jalur laut banyak digunakan para Tenaga Kerja Indonesia yang akan masuk ke Malaysia, dan perlakuan petugas sangat merendahkan mereka, saya sungguh tidak tahan melihat itu).

Seperti biasa, mengantri di imigrasi.
dan giliran saya maju
saya menyerahkan passport bersama print out tiket perjalanan saya.
"datang nak buat apa?" tanpa melihat wajah saya
"liburan" dengan nada cuek
"ape?"
"vacation"
"berape lame?" dengan nada kurang bersahabat
"aduh, ga bisa lihat sendiri ya, itu kan sudah saya lampirkan tiket perjalanan saya" sambil saya menunjuk tiket dan passport ditangan si cewek petugas imigrasi.
Setelah dia melihat print out tiket barulah dia mencap passport saya.
Dan saya berlalu tanpa mengucapkan terima kasih.

Namun bila saya bertemu petugas yang baik,pasti saya mengucapkan terima kasih plus senyuman manis pada mereka.
Dan itu baru terjadi setelah sekian kali perjalanan bolak-balik saya ke Malaysia. Kali ini petugas imigrasi nya seorang cowok dalam umur tiga puluhan. Pertanyaan wajibnya setelah membolak balik passport saya.
"nova sari"
"ya saya"
"apa tujuan awak datang?"
"saya mau buat event TREASURE HUNT di Club Med Cherating, then saya akan liburan ke Penang"
"event ape?"
"TREASURE HUNT! Semacam amazing race, sangat popular kan di Malaysia, hmm..ngak pernah dengar ya?"
"owh Treasure hunt. Yer saya tahu." 
Mie Udang Penang
"Jauh-jauh datang dari Indon untuk buat treasure hunt kat sini, wah bagusnya. Untuk syarikat awak yer?"
"Ya, kerna di Indonesia treasure hunt belum famous lagi"
"ok."
Kemudian saya bilang saya akan liburan ke Penang.
"First time awak datang kat Penang?"
"Yeah, tapi kalau tempat-tempat lain udah sering, so trip ini saya akan coba ke Penang"
"Penang sangat bagus tempatnye. Nanti awak mesti cuba makan Mie Udang, sangat best rasanya. Itu menurut saya lah, tak tau pulak selera orang berbeza kan."
"ok, dengan senang hati nanti saya akan coba mie udang di Penang"

Setelah passport saya di cap, dan pembicaraan tidak boleh terlalu panjang sebab antrian masih panjang!
"Thank You! " plus senyuman dan saya berlalu dari hadapannya.
Baru kali ini petugas imigrasi sangat ramah.