Friday, October 11, 2019

'The Heaven on Earth' itu bernama KASHMIR

Hamparan salju di Gulmarg - Kashmir
Entah apa yang melintas di pikiran saya tiba-tiba saja terbersit ingin mengunjungi Kashmir. Ajaibnya sekitar dua bulan sejak pikiran itu, di grup backpacker internasional heboh tiket 'error' Jakarta - Delhi, hanya 1,5 jutaan PP dengan maskapai Jet Airways. Serius?!! iya..duarius bang!! 
Tanpa pikir panjang dalam waktu 3 menit saya issued tiket Jakarta-Delhi untuk 12 hari perjalanan. Liburan musim semi di depan mata. Yey!!

Katanya India itu penuh drama. Dan demikian juga dengan maskapai mereka. Sebulan menjelang keberangkatan Jet Airways mereschedule jadwal, ini masih ok, eh menjelang  seminggu keberangkatan ada pemberitahuan mereka membatalkan semua penerbangan karena bangkut.

Apa?! bangkrut?? Trus nasib penumpang bagaimana?. Semua tiket lanjutan dan hotel sudah prepare jauh-jauh hari, seenak udel aja mau refund. (Masalahnya uang refund nya ga bakalan bisa beli tiket semurah itu bos).
Singkat cerita, penerbangan saya dialihkan dengan Etihad Airways dan transit di Abu Dhabi. Kurang keren apa coba?, meski kehilangan 2 tiket lainnya.

Abu Dhabi International Airport
Dari Abu Dhabi heading to Indira Gandhi International Airport. Sampai di Indira Gandhi harus buru-buru check in lagi untuk penerbangan ke Srinagar - Kashmir. Saya mulai capek banget dengan long haul flight. Pagi hari Rabu saya keluar dari rumah menuju Padang 2 jam perjalanan. Pesawat dari Padang ke Jakarta kurang lebih 2 jam, lanjut ke Abu Dhabi 8,5 jam, kemudian terbang lagi ke Delhi 3,5 jam. Perlu s-a-t-u  jam saja lagi untuk mencapai heaven on earth itu.

Setelah setengah jam terbang dari Delhi ke Srinagar, tiba-tiba dari ruang kokpit ada pemberitahuan RTB! iya betul banget ga salah dengar saya. Return To Base dengan alasan teknis. Apakan tidak mendadak rasa mau berakhir hari saya, astaghfirullah nov! Pastinya muka tegang dan pucat pasi. Lebih parahnya lagi perangai penumpang masih saja berisik tidak jelas membuat saya semakin takut. Tapi wajah-wajah awak kabin yang saya perhatikan cukup relax artinya pesawat masih dalam kendali pilot. Saya berdoa semoga saya tetap bisa sampai 'syurga'.
Setelah mendarat kembali di Delhi barulah teka-teki saya terjawab. Ternyata moncong pesawat menabrak burung sampai kondisinya penyok.
 
Saat evakuasi dari pesawat
Kami dipindahkan ke pesawat lain untuk terbang kembali ke Srinagar. Menjelang mendarat di Srinagar saya sangat takjub. Ya Allah indah banget pemandangan pegunungan Himalaya yang puncak-puncaknya tertutup salju. Menjelang landing mata disuguhi hamparan ladang Canola yang bunganya menguning di musim semi ini. Dan sepanjang perjalanan keluar dari airport semua bunga warna-warni bermekaran sepanjang jalan, bahkan bunga rumputpun sangat cantik dimata saya. Subhanallah, sungguh ini heaven on earth. Semua rasa lelah terbayar tunai.

Kata-kata tidak cukup indah menggambarkan keindahan Kashmir. Lebih indah dengan mengabadikan dalam bidikan lensa.   
hamparan ladang Canola

Palhagam
Tulip bermekaran di Taman Indira Gandhi

Baisaran Valley - Palhagam


House boat at Dal lake

Domba, domba, domba
Shikara ride on Dal Lake
View of Palhagam


Berkuda ke Baisaran Valley


    
bunga rumput yang berwarna-warni
bunga rumput dan sepasang sejoli

Wednesday, June 5, 2019

RAYA

KLIA2, 30 Ramadhan 1440H
Selamat hari Raya Idul Fitri dari Penang. Hari ini merasakan suasana lebaran sedikit berbeda dari setiap hari raya tahun sebelumnya. Sholat Eid di mesjid yang tidak satupun jemaahnya saya kenal. Ditambah lagi kotbah khatib yang sulit saya pahami. Kalau bahasa melayu pasti saya mengerti, tapi ini khotbahnya lebih banyak dalam bahasa Kedah. Ya salam, sepanjang khotbah saya hanya memandangi kemegahan mesjid ini ditambah lagi pakaian jemaah yang berwarna warni. Berbeda suasana di tempat saya, warna putih mendominasi pakaian di hari lebaran.

Selesai sholat bengong juga mau silaturahmi kemana. Akhirnya pergi cari makanan yang istimewa untuk sarapan pagi dihari raya ini. Setelah beberapa lama perjalanan menyusuri jalan kampung, ah! saya melihat pedagang lemang. Yahoo!! bisa makan lemang juga di kampung orang. Akhirnya...terasa lebaran di kampung sendiri :)

Langkah gembira menuju mesjid

Masjid Abdullah Fahim - Kepala Batas
 


menu berbuka puasa terakhir - Penang asam laksa


Ekspesi bahagia dapat makan lemang

Selamat hari raya, mohon maaf lahir bathin. 🙏



Friday, November 2, 2018

VITAMIN SEA



Pantai Tanjung Aan, Lombok
Sejatinya bagi saya penikmat laut yang tinggal di Gunung (Bukittinggi) harus menghirup udara asin laut minimal sekali dalam setahun. Energi serasa direcharge selepas pulang dari pantai. Untuk mendapatkan ‘vitamin sea’ yang sempurna saya mempunyai kriteria tersendiri tentang pantai. Walaupun namanya sama-sama pantai namun kepuasan akan pantai yang dikunjungi sangatlah berbeda-beda sesuai kriteria pantai versi saya.

Pantai touch n go! Pantai jenis ini hanya berupa hamparan pasir, ombak besar, dan penjual makanan/minuman dengan pemandangan pas-pasan. Yang bisa dilakukan disini hanya duduk santai sambil menikmati kelapa muda dan cemilan yang dijual. Pantai Padang dan pantai lainnya di sepanjang pantai barat Sumbar yang langsung berhadapan dengan Samudera Hindia, Pantai Parangtritis Jogja, Pantai Losari Makassar merupakan contoh pantai touch n go yang pernah saya kunjungi.

Pantai Rakyat. Pantai yang dikunjungi oleh sejuta umat sebab  akses ke pantainya mudah dan bibir pantai yang panjang. Saya kurang suka dengan pantai jenis ini seperti Pantai Kuta Bali dan Pantai Phuket Thailand. So crowded.

Pantai so so day. Menikmati pantai jenis ini lumayan seru. Menginap di hotel yang berhadapan langsung dengan pantai yang biasa, (tidak ada aktifitas langsung dengan laut sebab memang tidak direkomendasikan atau lautnya tidak landai, hanya dipandangi doang). Yang  membuat jadi special itu ya feel free lenyeh-lenyeh di pantai yang hanya bisa diakses oleh tamu hotel.
Saya menikmati liburan seperti ini di Bay View Hotel Batu Feringghi, Swiss Garden Beach Resort Kuantan, The Ocean Residence Langkawi, dan di Club Med Cherating Beach. Semuanya di Malaysia.

Pantai a good day. Pantai jenis ini sangat bagus menurut saya, viewnya cantik untuk selfie, pantainya landai dengan pasir putih, air biru toska, dan ditambah lagi dengan kehidupan laut yang bisa dinikmati hanya dengan snorkeling. Biasanya pantai jenis ini ada pada pulau-pulai kecil tanpa penduduk. Jadi kita harus datang pagi dan sorenya harus balik. Sepanjang hari menikmati segala macam kegiatan di pantai dijamin tidak akan mati gaya.

Saya mengunjungi rangkaian Pulau Sikuai, Pulau Pagang, Pulau Pamutusan dan Pulau Pasumpahan, serta Pulai Cingkuak di Sumbar untuk menikmati vitamin sea jenis ini. Telentang memandangi langit-tengkurap memandangi keindahan terumbu karang dan salto di laut dijamin tidak akan tenggelam karena kedalaman air yang tidak seberapa. Puas rasanya menghabiskan hari di pantai jenis ini.

Pantai Pulau Payar di Langkawi sangat menarik bagi saya, memang tidak ada terumbu karang cantik, namun ribuan ikan dari berbagai spesies dengan beraninya mendekati saya. Malah saya yang takut dengan anak-anak ikan hiu yang menemani saya snorkeling.
Tapi saya paling kecewa dengan ‘pantai a good day’ nya Phiphi Island. Untuk trip ke Phiphi Island saya siapkan dua baju renang sebab saya pikir aktivitas selama liburan disana adalah laut dan laut. Untuk mengelilingi pulau-pulau saya ambil one day trip untuk beberapa spot snorkeling dan menikmati sunset. Long tail boat pertama berhenti di Monkey Bay. Cuma berhenti 20 menit untuk bercengkrama dengan monyet-monyet dan foto bareng, aduh!. Spot selanjutnya melihat Viking Cave dan snorkeling di salah satu pulau. Cuma banyak ikan badut, dan yang bikin hati agak ciut juga banyak Landak laut. Dan puncak ke-Be-Te-an itu saat diajak ke Maya Bay. Imaginasinya bisa puas selfie dan jungkir balik di laut dengan berbagai pose sebab lihat foto-foto di internet tentang Maya Bay keren semua. Tapi kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan saudara-saudara. Sampai di Maya Bay, Long tail boat yang parkir buanyak banget dan pengunjung juga bejibun. Diluar ekspektasi saya.

Pantai a good day yang paling saya suka selain yang di pantai barat Sumbar adalah Tanjung Aan Beach di Lombok. Viewnya subhanallah cantik sekali dan nilai plusnya adalah pengunjung yang bisa dikatakan hitungan jari. Saya suka pantai yang sepi, bisa puas berenang menghitamkan kulit yang sudah coklat.

Paradise in island. Kasta pantai jenis ini sedikit lebih tinggi dari Pantai a good day. Semua kriteria ‘pantai a good day’ masuk didalamnya plus disini dilengkapi dengan penginapan. Pulaunya tidak terlalu ramai, buka jendela kamar langsung pemandangan lepas ke laut yang mempesona dan saya rasa untuk mandi pagipun langsung saja nyebur ke laut ditemani ikan dan terumbu karang yang beraneka bentuk dan warna.

Gili Meno di Lombok menawarkan ‘Pantai Paradise in island’ bagi saya. Pulaunya tidak ramai dan tidak ada kendaraan bermotor, pantainya berpasir putih atau pink, airnya biru toska bening dan juga dilengkapi spot-spot snorkeling. Hanya keragaman terumbu karang dan ikannya kurang bervariasi. Malam hari  live music di café-café tepi pantai menyemarakkan suasana liburan. Pulau Salang-Tioman di Pahang Malaysia melengkapi sedikit kekurangan Gili Meno Lombok. Disini biota lautnya sangat beragam. Liburan ala pantai menjadi paket yang sempurna.

Tuesday, May 1, 2018

unplan plane

Pesawat Xpress Air (PKU-Melaka)
Saya setuju dengan pendapat bahwa seorang kaki jalan adalah orang dengan karakter yang lebih tangguh dalam menghadapi permasalahan. Bahkan mereka harus mampu melihat apapun kejadian dari dua sisi dan keep positive thinking. Sederhananya begini, sudah apes pun masih harus bisa bilang "untung masih..."
Catat! kaki jalan yang saya maksud bukan pelancong dengan tour guide ya.

Perjalanan yang menurut saya paling apes sejauh ini adalah traveling ke Bangkok tahun lalu. Niatnya sih liburan seminggu disana sambil merayakan hari lahir, tapi realitanya baru saja mendaratkan kaki di airport Don Mueang harus segera me-rescadule jadwal balik untuk lusanya, kerna urusan kerja teman jalan saya yang tidak bisa di-cancel. (yaelah..capek perjalanan hari ini yang mesti bangun jam 3 buta belum terobati, sekarang sudah harus beli tiket pulang).
Harga perubahan tiket sama persis dengan harga beli baru, aduh! Akhirnya tiket pulang dibiarkan begitu saja, dan dengan terpaksa membeli tiket baru. Dengan pertimbangan sana-sini akhirnya beli tiket full service MAS, pilihan penerbangan paling pagi.

Subuh sudah sampai di Suvarnabhumi Airport dengan mata masih mengantuk dan 'bad day' pun bermula. Penerbangan pertama MAS tujuan Jakarta delay lebih sejam. Alhasil saya ketinggalan penerbangan selanjutnya. Sampai di imigrasi Jakarta bad day masih berlanjut. Saya kena random check dan harus naked di depan petugas imigrasi (eits...didalam ruangan tertutup ya dan cuma saya dan petugas cewek yang memeriksa saya). Anti klimaks mereka tidak menemukan apa-apa pada saya.

Keluar dari imigrasi saya berlarian ke counter Lion Air untuk mencari tiket terakhir ke Balikpapan. Sebelumya saya check disemua aplikasi jual tiket online semua full booked. Siapa tau di counter masih ada. Kata petugasnya masih ada, "ok pak langsung booking atas nama saya". Pas dia masukkan data, yah...! "Habis mba". Balik lagi ke aplikasi tiket online, u-n-t-u-n-g  m-a-s-i-h  ada Garuda penerbangan terakhir. Langsung saya booked dan segera berlarian ke terminal 3 sebab waktu sudah mepet. phew!!!

Jam 2 pagi saya sampai di salah satu lokasi HTI di Kalimantan Timur, setelah hampir tiga jam dalam mobil yang melewati Hutan Eucalyptus dan jalanan pasir sertu. Besok paginya langsung ke kantor mereka untuk sign kontrak. Alhamdulillah happy ending juga :)

Lain lagi dengan perjalanan ke Melaka end of year tahun lalu. Niatnya sih mau jalur laut saja dari Dumai ke Melaka. Tapi dipikir-pikir lagi, rasanya capek banget dari Pekanbaru ke Dumai perjalanan malam dan pagi langsung ke Melaka. Apalagi saat itu kondisi kesehatan saya kurang fit. Dan memang salah satu tujuan ke Melaka adalah untuk berobat. Dalam keadaan galau, saya putuskan untuk naik pesawat dari Pekanbaru ke Melaka. Kerna booking last minute dan akhir tahun jadilah harga tiket melonjak 200%. 

Never mind, tiket sudah dibeli. Besok paginya saya berangkat ke Sultan Syarif Kasim II. Waktu check in, saya hanya membawa satu luggage ukuran kabin. Tapi petugas bilang, "mba..kopernya harus masuk bagasi ya". "Inikan ukuran kabin mba"."Iya, tapi pesawat kita kecil mba, itu harus masuk bagasi". Sayapun ikut maunya petugas counter itu sambil berpikir emangnya sekecil apa sih pesawatnya?.

What?? pesawat baling-baling bambu??!! Dengan kapasitas penumpang 30 orang, dan hanya ada seorang pramugari. Saya sedikit khawatir jadinya. 

Saat pergantian tahun, seharusnya saya ikut merayakannya di tepi sungai Kota Melaka. Tapi malam ini saya harus mengejar bus dari Melaka ke KLIA 2 untuk penerbangan paling pagi dari KL ke Padang. Walaupun jarak Melaka ke KLIA 2 paling lama hanya 2 jam perjalanan tapi masalahnya adalah bus terahir dari Melaka ke KLIA 2 berangkat jam 12 am. 

Dari pukul 10.30 pm saya sudah pesan Grab Car. Tunggu punya tunggu mobil tidak sampai-sampai di hotel. Alamak!, jalanan sudah macet kerna semua orang keluar merayakan pergantian tahun. Pukul 11 pm hujan mulai turun dan driver Grab Car meng-cancel pesanan sebab terjebak macet. Saya pesan Grab Car yang lain dan memohon kedrivernya untuk tetap berusaha menjemput. N-a-s-i-b  b-a-i-k drivernya mau. 

Muka tegang-jantung berdetak kencang. Jam sudah menunjukkan pukul 11.50 pm. Nah..akhirnya driver sampai. Saat ditanya apakah bisa ontime sampai di bus station, "i try my best" jawabnya. jam 12 teng kami masih di jalan menuju bus station. "Happy new year" ucap saya ke Hari dan ke driver yang masih anak kuliahan itu. "Happy new year to u too" keduanya me-replay saya :)

Sampai di bus station bus sudah siap-siap mau berangkat. Alhamdulillah tidak ketinggalan bus :) Jadilah malam panjang itu sepanjang perjalanan Melaka ke KL.

Satu hal yang paling saya syukuri adalah punya teman jalan yang baik. Seburuk apapun keadaan dalam beberapa trip kami, tidak sekalipun itu menjadikan pertengkaran atau saling menyalahkan.

Monday, August 22, 2016

Dadiah, Yogurt ala Minangkabau

Ampiang dadiah
Kalau saya bilang kata 'Rendang' pasti semua sepakat menobatkannya sebagai salah satu makanan terlezat yang berasal dari Ranah Minang, bahkan duniapun mengamininya. Rumah makan Padang selalu menjadi incaran pecinta kuliner di seluruh Nusantara.
Tapi kalau saya bicara tentang enaknya Emping Dadih (bahasa Minang: Ampiang Dadiah) seberapa banyak diantara kita yang mengenal makanan ini? 
Kata Dadih sudah didefinisikan 'Oppa Wiki'
Dadih (bahasa Minangkabau: dadiah) adalah yogurt tradisional khas Minangkabau yang terbuat dari susu kerbau (Bubalus bubalis). Dari segi bahasa, kata "dadiah" memiliki kemiripan dengan dudh, bahasa dari etnis Sindhi (India dan Pakistan).
Sedangkan empingnya dibuat dari beras ketan yang disangrai kemudian ditumbuk saat masih panas sehingga menjadi pipih.

Sebelum emping di sawah dan dadih di susu kerbau bersatu di mangkok, saya berkesempatan ikut secara langsung melihat proses pembuatan dadiah.

Dua hari sebelumnya saya sudah janjian dengan Si bapak yang akan memperlihatkan pada saya proses membuat dadiah. Minggu pagi dalam dinginnya udara Bukittinggi, saya sudah siap menuju sawah tempat kerbau yang akan diambil susunya untuk dijadikan dadiah. Guna merangsang air susu induk kerbau, disusukanlah anaknya sebentar. Ketika si anak enak-enaknya menyusu, dia dijauhkan dari induknya, kata Si bapak, anak kerbaunya disusukan lagi nanti siang sepuas yang dia mau. Kemudian bapak itu bersiap dan mulai memerah. 
Proses pemerahan susu kerbau
Susu hasil perahan pagi ini cukup banyak, sekitar 2 liter, yang langsung akan dijadikan dadiah. Susu disaring dari kotoran, kemudian dimasukkan ke dalam gelas takar sebelum akhirnya dituangkan dalam tabung bambu yang sudah dipotong-potong sepanjang 15cm. Tutup tabung bambu dengan plastik transparan, dan simpan selama 2 sampai 3 hari. Apakah air susu itu ditambahkan bakteri baik seperti pada pembuatan yogurt? Tidak. Berdasarkan penelitian, bagian dalam dari tabung bambu itulah yang mengandung bakteri asam laktat yang akan menggumpalkan air susu kerbau menjadi padatan, artinya fermentasi dadiah berhasil.
Dadiah dalam tabung bambu


Bagaimana cara menikmati dadiah?
Siangnya saya jalan-jalan cari makan di Pasa Ateh (Pasar Atas Bukittinggi) mencari Ampiang Dadiah yang menjadi makanan khas urang awak (Orang Minang) itu.

Hanya ada beberapa tempat makan yang menjual, seperti Rumah Makan Simpang Raya yang tepat berdepanan dengan Jam Gadang, kemudian tempat makan Haji Minah dekat Jenjang 40, tapi saya memilih untuk mencicipi Ampiang Dadiah yang ada di tengah Pasar Atas, sekalian memesan Sate Padang untuk menu makan siang.

Emping bertabur parutan kelapa,
Dadiah,
Parutan es,
kemudian diatasnya disiram dengan karamel gula merah.
Rasanya? Onde mande...Lamak bana!

Dadiah yang akan dimakan dengan nasi
Masih merasa kurang puas makan dadiah, sayapun membeli 2 tabung lagi. Ketika saya bercerita dengan Nenek yang menjual dadiah, beliau menyarankan saya cara lain menikmati dadiah ala urang saisuak (orang tua zaman dulu).
Siapkan dadiah, beri irisan bawang merah, cabe merah dan daun sirih kemudian tambahkan sejumput garam. Dadiah siap dimakan dengan nasi.
"Lebih enak lagi kalau ada samba lado, terung rebus dan ikan asin, makan dengan dadiah", kata nenek penjual dadiah. Sayapun mengikuti petunjuk beliau. Ternyata rasanya sungguh menggoda selera.

Pemburu kuliner nusantara saya sarankan bersegeralah mengajukan cuti tahunan sebelum terlambat. Ambil travel bag dan packing seperlunya untuk liburan mengendurkan syaraf otak, menegangkan syaraf perut :)  
Booking tiket pesawat di website airpaz.com, untuk membandingkan harga dari berbagai maskapai penerbangan yang akan mendaratkan kamu di Bandara Internasional Minangkabau seperti Garuda Indonesia, Air Asia, Lion Air, Citilink, Sriwijaya Air dan lainnya.  Kemudian langsung saja menuju Kota Bukittinggi, The Dreamland of Sumatera yang berjarak sekitar 74 Km dari bandara. Selamat liburan, selamat makan-makan, selamat menimbun lemak! *_^


Thursday, August 18, 2016

Negeri Seribu Parit (kenangan)

'Budak-budak Saka Jalan"
Negeri Seribu Parit begitu saya mengenang tempat ini. Desa Saka Jalan, Kecamatan Mandah Inderagiri Hilir Riau. Daerah ini bisa dicapai dengan beberapa pilihan penerbangan seperti Lion Air, Citilink ataupun maskapai lainnya dengan tujuan airport Hang Nadim Batam, kemudian lanjutkan perjalanan via laut selama tiga jam dengan Ferry rute Batam-Tembilahan.

Seluas mata memandang, terhampar perkebunan kelapa, di kabupaten inilah perkebunan kelapa terluas yang ada di Sumatera. Mungkin bagi yang selama ini berpikir kalau Riau hanya dikenal dengan perkebunan Kelapa Sawitnya, tapi disini perkebunan Kelapa Dalam-nya yang menjadi penggerak perekonomian masyarakat. Daerahnya khas dengan tanah gambut, hutan bakau dan ribuan parit-parit kecil untuk memudahkan petani mengangkut hasil panen kelapa mereka. 
 
Parit untuk memudahkan mengangkut hasil panen
Saya sempat tinggal di desa ini sekitar setengah tahun pada tahun 2007 silam untuk urusan pekerjaan.
Saat pertama saya menginjakkan kaki di desa ini saya merasa sangat senang, dalam hati berkata 'disinikah saya akan bekerja? Tidak!, tapi disini saya akan liburan. Libur panjang', begitu indahnya pemandangan alam yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Di depan rumah tempat tinggal saya merupakan jalan raya laut. Setiap saat akan lewat sampan nelayan, kapal kayu dari berbagai ukuran yang mengangkut kelapa untuk dibawa ke pabrik ataupun yang akan di eksport ke Malaysia, dan satu kali sehari akan lewat ferry tujuan Tembilahan-Batam dan sebaliknya.
Hasil panen yang berlimpah
Masyarakatnya sangat welcome dengan pendatang, sebab disini juga sudah berbaur antara tiga suku Melayu, Banjar dan Bugis. Sayangnya daerah yang sangat kaya dengan hasil perkebunan dan sumber laut ini tidak sebanding dengan keadaan penduduknya. Di Saka Jalan ini belum tersentuh penerangan dari PLN. Masyarakat yang cukup mampu hanya menggunakan mesin genset untuk penerangan dari senja sampai sekitar jam sebelas malam. Larut malam kembali mereka hanya ditemani lampu minyak tanah. Tingkat pendidikanpun masih sangat rendah, bahkan masih ada yang buta huruf. Untuk urusan komunikasi saat itu sangat susah. Pernah lihat iklan salah satu profider handphone yang mesti memanjat pohon untuk bisa dapat sinyal? nah...saya harus memanjat pohon kelapa dulu untuk cari sinyal, hehe...

Suatu hari saya berbelanja keperluan kantor ke daerah Guntung, dua jam naik kapal kayu pompong. Kerna dari Guntung berangkat senja, saat diperjalanan sudah gelap gulita. Hanya satu-dua cahaya lampu dari kejauhan yang terlihat, bisa saja cahaya dari rumah penduduk di pinggir sungai ataupun cahaya dari kapal lainnya. 
Tiba-tiba saya melihat cahaya yang sangat gemerlapan dikejauhan, semakin kapal mendekat kesumber cahaya semakin indah terlihat, rupanya cahaya itu dari pohon-pohon di pinggir sungai. Subhanallah!!! saya takjub sekali, Inilah kali pertama dalam hidup saya menyaksikan kunang-kunang dalam jumlah yang sangat banyak mengalahkan keindahan lampu kelap-kelip, ya ini lampu kelap-kelip alam. Ribuan kunang-kunang itu menghiasi Pohon-pohon Sonneratia alba atau masyarakat disini mengenalnya dengan Pohon Pidada. 
Andai saja pada masa itu Owl City sudah menciptakan lagu Firefly, sudah pasti dari mulut saya keluar alunan 'You would not believe your eyes if ten million fireflies lit up the world as i fell asleep......'
Kapal Pompong pembawa kelapa
Dilain hari saya melihat anak-anak yang berenang di laut memakan buah Pidada ini, tertarik untuk mencoba saya cicipi buah ini rasanya hampir mirip dengan jambu biji. Ada rasa asam, manis dan sepat.
Disiang hari yang panas petik saja kelapa muda sesuka hati untuk pengilang dahaga, dan ketika perut mulai lapar saya akan duduk di dermaga untuk menunggu nelayan dengan hasil tangkapannya. Ikan, udang, kerang, kepiting dengan harga murah dan masih segar selalu menjadi menu makanan hari-hari saya disini. Alangkah berbahagianya penikmat seafood ini. 

Hanya air minum warna bening menjadi barang langka disini, sebab air tanahnya sewarna dengan air teh pekat, pengaruh tanah gambut. Air terasa sepat dikerongkongan, tapi lambat laun rasa itu jadi seperti teh manis saja. Dan kata orang siapa yang sudah meminum air gambut ini, pasti akan merindukan untuk kembali lagi kesitu. Demikan yang saya rasakan waktu menulis ini, sambil membuka www.airpaz.com mencari tiket pesawat untuk bisa kembali ke Negeri Seribu Parit-Seribu Kenangan.